Bintang Hatiku
(Sebuah Cerpen)
Dahulu aku pernah mencintai
seorang sahabat. Dan sampai kini cinta itu masih saja melekat. Karena dia
adalah bintang yang pertama masuk ke dalam langit hatiku. Dia adalah cinta
pertamaku. Namun sampai detik inipun dia masih belum tahu. Sehingga tiba
saatnya dia dicuri oleh orang lain yang juga masih teman dekatku. Tapi dengan
kebisuanku, aku masih bisa dekat dengannya. Bertahun-tahun menjadi teman
curhatnya. Walau terasa menyakitkan.
Pernah suatu malam aku
terlibat diskusi panjang dengan Fan. Nama lengkapnya Rifan. Tapi aku selalu
memanggilnya Fan. Dia yang menginginkannya. Seperti panggilan kesayangan di
antara kami berdua. Dia cerita kepadaku
tentang keraguannya pada pacarnya yang sekarang. Sudah sekian wanita yang dia
dekati dan selalu berakhir dalam waktu yang singkat. Masalahnya selalu sama.
Dia ragu pada mereka. Ragu pada cinta meraka. Aku selalu ingin berkata padanya
bahwa ada wanita yang tidak akan diragukan lagi. Ada wanita yang tulus
mencintainya. Walaupun wanita itu sering sakit hati olehnya.
Dalam kasus ini aku juga
berteman baik dengan kekasih Fan. Emi adalah teman sekelasku dan cukup akrab
denganku. Aku tahu Emi sangat menyayangi Fan. Dia mencintai Fan dengan tulus.
Aku tidak ingin Fan melukai hatinya. Seperti yang telah dia lakukan terhadap
mantan-mantanya dulu. Karena aku juga merasakan betapa sakitnya cinta yang tak
terbalaskan. Kemudian pada akhirnya dia membuat janji setelah aku
meyakinkannya. Jika bukan karena takdir atau hal diluar kekuasaannya dia tidak
akan pernah menyakiti Emi. Senang sekaligus sedih. Aku lega karena dia tidak
akan mengecewakan wanita lagi. Tapi ini berarti aku harus berusaha menahan
kepedihan lagi. Aku harus merelakan langit hatiku gelap lagi.
Sudah berhari-hari aku
kehilangan kontak dengan Fan. Saat kutanya Emi katanya dia baik-baik saja cuman
sedang sibuk dengan pekerjaannya. Seperti itulah Rifan. Jika hatinya sedang
mantap dengan pacarnya dia selalu lupa kepadaku. Dia akan bersenang-senang
tanpa peduli aku sedang ada di dekatnya sekalipun. Dan aku berani bertaruh dia
akan kembali menatap mataku dan tersenyum ketika dia ingin menangis karena
kecewa seperti biasanya. Tapi untuk Emi aku tidak begitu yakin. Aku tahu Emi
tulus mencintai Fan dan tidak mungkin dia memutuskan Fan. Mungkin aku harus
mencoba merelakannya benar-benar lepas dari hidupku. Tak seharusnya aku
terus-terusan menyembunyikan bintang itu di dalam hatiku. Dia harus bersinar
bebas di atas langit yang luas. Atau aku harus cari penggantinya? Rasanya tidak
mungkin jika cari bintang lain. Fan terlalu melekat di hatiku. *
”Maaf !” tiba-tiba seorang
pria memikul tangga besi lewat di depanku. Dia menoleh dan tersenyum kepadaku.
Aku mundur satu langkah memberinya jalan. Saat itu aku sedang memperhatikan Fan
yang tengah berbicara dengan Emi di dekat motornya. Motor Vespa tahun sembilan
puluhan yang pernah membawaku nyasar di perkampungan saat pulang dari tugas survei
lokasi untuk camping saat masih di SMA empat tahun yang lalu. Aku dan Rifan
kebagian tugas itu karena sama-sama sebagai anggota OSIS. Kejadian itu telah
mendekatkan aku dengannya. Padahal sebelum peristiwa nyasar itu aku tidak
terlalu dekat dengannya. Meskipun sering berada dalam waktu atau tempat yang
sama. Dan lucunya aku dan dia satu sekolah sejak SMP. Tapi kami belum pernah
akur. Dulu aku tidak menyukainya karena sifatnya yang angkuh dan sok keren.
Makanya aku dulu sempat bergabung dengan geng anti Rifan, lelaki sok keren, sok
tampan, sok pintar, sombong dan perfectionis itu.
Aku tidak pernah menyangka
aku bisa dekat dengannya. Tidak terpikirkan untuk jadi sahabatnya apalagi
mencintainya. Dan tidak pernah membayangkan jika hatiku akan sakit olehnya
seperti saat ini. Fan dan Emi tampak akrab saja di dekat Vespa itu. Padahal
Vespa itu pernah jadi bagian terpenting dalam hidupku. Aku ikut mendorongnya
ketika mogok di tengah ladang dan rumah penduduk masih jauh di ujung depan
sana. Sambil mendengarkan cerita Rifan tentang dirinya yang telah berkali-kali
ditolak wanita, disukai wanita tapi dia tidak suka tapi ketika dia mulai suka
pada wanita itu dia ditolak, dan tentang keinginannya untuk merubah sifat
kekanak-kanakanya. Aku mendorong motornya sambil tertawa-tawa mendengar cerita
Fan yang bagiku itu lucu. Seorang pria perfectionis itu ternyata menyedihkan
untuk soal wanita. Dan yang menyentuh hatiku dan telah menanamkan satu bibit
cinta adalah cerita dia tentang keinginannya untuk menjadi baik di mata
teman-temannya. Dia sadar sikapnya selama itu banyak yang tidak disukai oleh orang-orang
di sekelilingnya. Dia ingin berubah menjadi baik dan dapat disukai orang lain.
Sejak peristiwa itu Fan
berubah. Aku dijadikan tempat baginya untuk berkonsultasi. Dan anehnya aku
menerima begitu saja saat dia memohon agar aku membantunya. Ahirnya aku dan Fan
menjadi dekat dalam ikatan persahabatan. Begitulah ceritaku dengan satu bintang
yang tak akan pernah aku genggam itu. Cintaku masih saja mimpi. Oh! betapa
lelahnya bermimpi.
Mencoba masuk pada realita.
Kutarik pandanganku dari Fan dan Emi. Lalu kujatuhkan pada seorang pria dewasa
yang tadi lewat di depanku. Pria yang akhir-akhir ini selalu kudapati
senyumannya. Dia sedang menaiki tangga yang tadi dia bawa. Rupaya dia ingin
mengganti lampu di koridor yang padam. Karena dapat menghambat aktifitas
mahasiswa yang punya jadwal kuliah malam. Aku kenal baru-baru ini dengan pria
jangkung itu. Sebelumnya aku tidak tahu kalau dia itu satu kelas denganku.
Bagaimana mungkin bisa tidak tahu? Masalahnya dia baru masuk satu semester ini.
Dia adalah mahasiswa mutasi yang juga bekerja di kampus ini sebagai staf. Tapi
tak hanya itu dia juga aktif dalam berbagai hal. Dia juga dapat jabatan asisten
dosen. Luarannya tidak terlalu menarik. Kulitnya sawo matang, sedikit kurus,
bentuk wajah agak tirus, tapi bersih dan agak bercahaya. Ada sedikit jenggot
tumbuh di dagunya. Tinggi badannya lebih tinggi dibanding Rifan.
Pria si tukang senyum itu
akhir-akhir ini telah menarik perhatianku. Bukan hanya karena setiap bertemu
dia selalu tersenyum tapi karena sikapnya dewasa dan bertanggung jawab dalam
setiap tugas yang diembannya. Meskipun kelihatannya dia biasa-biasa saja, tapi
dia itu cerdas dan banyak tahu. Di kelas sering mendebat dosen. Dia juga sangat
rajin. Jika tidak ada kegiatan atau pekerjaan dia selalu melakukan apa saja
asalkan itu bermangfaat. Bermanfaat bagi semua orang tentunya. Disamping baik
hati dia juga suka bercanda alias humoris. Padahal dia itu jarang ngomong. Tapi
sekalinya ngomong bisa bikin ketawa semua orang. Kesannya selalu serius dan
agak menyebalkan bagi orang serius sekalipun. Karena sebenarnya dia itu lucu.
Tapi lucunya khas gaya dia seorang. Bagi yang kurang sesnsitif dan tidak suka
candaan jangan mau deh banyak-banyak tanya sama dia. Pasti bakal kesal karena
dapat jawaban tidak pasti, aneh tapi serius. Aku juga bingung.
“Pak, perlu bantuan?” Aku
melihat sepertinya dia kesusahan mengambil lampu dari dalam tas kecilnya. Dia
menunduk menatapku aneh sebentar. Kemudian dia tersenyum dan memberikan lampu
bekas yang sudah padam kepadaku. Aku sedikit berjinjit untuk mengambilnya. Dia
terlalu tinggi diatas tangga.
“Eh, Diya!” katanya setelah
turun dari tangga. Masih aja tersenyum. Satu hal lagi, dia selalu menebar
senyum kepada siapa saja yang ditemuinya. Jadi bukan kepadaku saja dia
tersenyum terus seperti itu.
“Buat Diya aja, lumayan buat
koleksi.” Dingin dan langsung pergi begitu saja saat aku hendak memberikan
lampu bekas tadi kepadanya.
“Apaan? Tunggu, Pak!” aku
jadi bingung dan kesal sama dia. Tapi dia berbalik dan tersenyum lagi.
Pandangannya sekilas melirik tong sampah di depanku. Barang bekas dibuang saja.
Buat apa jadi koleksi.
Aku dan dia tidak terlalu
banyak berkomunikasi. Ketemu sih sering. Tapi paling saling sapa dan tanya hal
yang penting saja. Kita lebih akrab di dumay alias dunia maya. Lewat chat di
jejaring sosial aku mencoba mengenalnya lebih jauh. Kebanyakanya kita bercanda
dan saling kirim emoticon, sticker atau foto-foto yang bisa bikin tertawa.
Untuk sementara aku bisa lupa
dari Rifan. Aku ingin mencoba move on. Aku mengagumi pria dewasa yang satu ini
tanpa aku sadari. Dan dari kekagumanku itu jadi ada sesuatu yang menggelitik
dalam dadaku setiap bertemu dengannya. Hatiku juga selalu berdesir saat dia
tersenyum kepadaku. Aku merasa menemukan bintang lagi yang bisa menghiasi
langit hatiku yang sebelumnya gelap ditinggal Rifan. Malahan bintang ini tampak
lebih terang.
Terlalu cepat mungkin untuk
menyimpulkan cinta. Dan tergesa-gesa untuk memasukan bintang itu ke dalam
hatiku. Tanpa aku terbang lebih tinggi untuk melihat sosok nyata bintang itu.
Karena di kemudian hari aku harus terbangun dari mimpiku lagi. Bintang itu telah
dicuri juga. Dan hatiku kembali gelap seperti awalnya. Pria dewasa itu ternyata
sudah memiliki pujaan hati. Namun untungnya aku belum terlalu dalam terjerembab
ke jurang pengagumanku padanya. Mungkin saja dia menyadari ada hati yang sedang
mengincarnya. Dan sebelum memberikan harapan yang lebih lagi dia memutuskan
harapan itu. Meski pada awalnya dia tampak tertarik padaku atau aku yang
terlalu berlebihan. Karena sebelumnya hatinya telah memilih satu hati yang
tidak bisa diraihnya. Tapi orang lain telah mencurinya terlebih dahulu sebelum
dia bisa mengungkapkannya. Dan saat hati itu lepas bebas kembali dia memilih
hati itu lagi.
Mungkin posisiku yang salah.
Atau aku yang salah menempatkan diri. Inilah indahnya kehidupan. Inilah
manisnya takdir. Mungkin inilah kilatan cahaya kehidupan yang kutemukan. Apapun
yang dihadiahkan Tuhan kepada kita jika kita menyikapnya dengan baik pastilah
baik. Karena tidak ada takdir yang buruk bagi orang-orang yang mau berpikir.
Seperti bintang aku
menempatkan cinta dalam hidupku. Bercahaya menyinari hidupku yang gelap dan
kelam. Dan ada dua bintang secara
bergantian memasuki langit hatiku. Namun kini keduanya telah dicuri. Dicuri
oleh sahabat-sahabat terdekatku. Walau sebenarnya mereka tidak mencuri. Sebab
aku tidak pernah memiliki keduanya. Namun alunan takdir membawaku ke dalam
melodi kehidupan yang begitu indah ini. Pahit yang sebenarnya manis ini harus
kukecap sebagai bentuk kesabaranku, ibadahku kepada-Nya. Aku hanya bisa diam
ketika aku harus menyadari bahwa inilah takdir. Peristiwa ini sudah
ketetapan-Nya. Tidak mungkin aku menggadaikan keimananku untuk hal-hal kecil
ini.
Tapi bolehkah aku
mengungangkapkan isi hati yang secara naluri aku adalah manusia yang memiliki segudang rasa? Ingin
kukabarkan pada alam yang paling pandai mengunci misteri. Meski hakikatnya
kepada Sang Penguasa alam yang memiliki karunia yang tak terbilang. Bahwa aku
mencintai tapi tidak pernah dicintai.#
By: imustbhappy*
e-mail: adiya.nazma@gamil.com
Note : “everyone can find theirs’ star” ^_^
Coment please!!
Coment please!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar