Jumat, 09 Mei 2014

Cerpen : Bintang Hatiku



Bintang Hatiku
(Sebuah Cerpen)

Dahulu aku pernah mencintai seorang sahabat. Dan sampai kini cinta itu masih saja melekat. Karena dia adalah bintang yang pertama masuk ke dalam langit hatiku. Dia adalah cinta pertamaku. Namun sampai detik inipun dia masih belum tahu. Sehingga tiba saatnya dia dicuri oleh orang lain yang juga masih teman dekatku. Tapi dengan kebisuanku, aku masih bisa dekat dengannya. Bertahun-tahun menjadi teman curhatnya. Walau terasa menyakitkan.
Pernah suatu malam aku terlibat diskusi panjang dengan Fan. Nama lengkapnya Rifan. Tapi aku selalu memanggilnya Fan. Dia yang menginginkannya. Seperti panggilan kesayangan di antara kami berdua.  Dia cerita kepadaku tentang keraguannya pada pacarnya yang sekarang. Sudah sekian wanita yang dia dekati dan selalu berakhir dalam waktu yang singkat. Masalahnya selalu sama. Dia ragu pada mereka. Ragu pada cinta meraka. Aku selalu ingin berkata padanya bahwa ada wanita yang tidak akan diragukan lagi. Ada wanita yang tulus mencintainya. Walaupun wanita itu sering sakit hati olehnya.
Dalam kasus ini aku juga berteman baik dengan kekasih Fan. Emi adalah teman sekelasku dan cukup akrab denganku. Aku tahu Emi sangat menyayangi Fan. Dia mencintai Fan dengan tulus. Aku tidak ingin Fan melukai hatinya. Seperti yang telah dia lakukan terhadap mantan-mantanya dulu. Karena aku juga merasakan betapa sakitnya cinta yang tak terbalaskan. Kemudian pada akhirnya dia membuat janji setelah aku meyakinkannya. Jika bukan karena takdir atau hal diluar kekuasaannya dia tidak akan pernah menyakiti Emi. Senang sekaligus sedih. Aku lega karena dia tidak akan mengecewakan wanita lagi. Tapi ini berarti aku harus berusaha menahan kepedihan lagi. Aku harus merelakan langit hatiku gelap lagi.
Sudah berhari-hari aku kehilangan kontak dengan Fan. Saat kutanya Emi katanya dia baik-baik saja cuman sedang sibuk dengan pekerjaannya. Seperti itulah Rifan. Jika hatinya sedang mantap dengan pacarnya dia selalu lupa kepadaku. Dia akan bersenang-senang tanpa peduli aku sedang ada di dekatnya sekalipun. Dan aku berani bertaruh dia akan kembali menatap mataku dan tersenyum ketika dia ingin menangis karena kecewa seperti biasanya. Tapi untuk Emi aku tidak begitu yakin. Aku tahu Emi tulus mencintai Fan dan tidak mungkin dia memutuskan Fan. Mungkin aku harus mencoba merelakannya benar-benar lepas dari hidupku. Tak seharusnya aku terus-terusan menyembunyikan bintang itu di dalam hatiku. Dia harus bersinar bebas di atas langit yang luas. Atau aku harus cari penggantinya? Rasanya tidak mungkin jika cari bintang lain. Fan terlalu melekat di hatiku. *
”Maaf !” tiba-tiba seorang pria memikul tangga besi lewat di depanku. Dia menoleh dan tersenyum kepadaku. Aku mundur satu langkah memberinya jalan. Saat itu aku sedang memperhatikan Fan yang tengah berbicara dengan Emi di dekat motornya. Motor Vespa tahun sembilan puluhan yang pernah membawaku nyasar di perkampungan saat pulang dari tugas survei lokasi untuk camping saat masih di SMA empat tahun yang lalu. Aku dan Rifan kebagian tugas itu karena sama-sama sebagai anggota OSIS. Kejadian itu telah mendekatkan aku dengannya. Padahal sebelum peristiwa nyasar itu aku tidak terlalu dekat dengannya. Meskipun sering berada dalam waktu atau tempat yang sama. Dan lucunya aku dan dia satu sekolah sejak SMP. Tapi kami belum pernah akur. Dulu aku tidak menyukainya karena sifatnya yang angkuh dan sok keren. Makanya aku dulu sempat bergabung dengan geng anti Rifan, lelaki sok keren, sok tampan, sok pintar, sombong dan perfectionis itu.
Aku tidak pernah menyangka aku bisa dekat dengannya. Tidak terpikirkan untuk jadi sahabatnya apalagi mencintainya. Dan tidak pernah membayangkan jika hatiku akan sakit olehnya seperti saat ini. Fan dan Emi tampak akrab saja di dekat Vespa itu. Padahal Vespa itu pernah jadi bagian terpenting dalam hidupku. Aku ikut mendorongnya ketika mogok di tengah ladang dan rumah penduduk masih jauh di ujung depan sana. Sambil mendengarkan cerita Rifan tentang dirinya yang telah berkali-kali ditolak wanita, disukai wanita tapi dia tidak suka tapi ketika dia mulai suka pada wanita itu dia ditolak, dan tentang keinginannya untuk merubah sifat kekanak-kanakanya. Aku mendorong motornya sambil tertawa-tawa mendengar cerita Fan yang bagiku itu lucu. Seorang pria perfectionis itu ternyata menyedihkan untuk soal wanita. Dan yang menyentuh hatiku dan telah menanamkan satu bibit cinta adalah cerita dia tentang keinginannya untuk menjadi baik di mata teman-temannya. Dia sadar sikapnya selama itu banyak yang tidak disukai oleh orang-orang di sekelilingnya. Dia ingin berubah menjadi baik dan dapat disukai orang lain.
Sejak peristiwa itu Fan berubah. Aku dijadikan tempat baginya untuk berkonsultasi. Dan anehnya aku menerima begitu saja saat dia memohon agar aku membantunya. Ahirnya aku dan Fan menjadi dekat dalam ikatan persahabatan. Begitulah ceritaku dengan satu bintang yang tak akan pernah aku genggam itu. Cintaku masih saja mimpi. Oh! betapa lelahnya bermimpi.
Mencoba masuk pada realita. Kutarik pandanganku dari Fan dan Emi. Lalu kujatuhkan pada seorang pria dewasa yang tadi lewat di depanku. Pria yang akhir-akhir ini selalu kudapati senyumannya. Dia sedang menaiki tangga yang tadi dia bawa. Rupaya dia ingin mengganti lampu di koridor yang padam. Karena dapat menghambat aktifitas mahasiswa yang punya jadwal kuliah malam. Aku kenal baru-baru ini dengan pria jangkung itu. Sebelumnya aku tidak tahu kalau dia itu satu kelas denganku. Bagaimana mungkin bisa tidak tahu? Masalahnya dia baru masuk satu semester ini. Dia adalah mahasiswa mutasi yang juga bekerja di kampus ini sebagai staf. Tapi tak hanya itu dia juga aktif dalam berbagai hal. Dia juga dapat jabatan asisten dosen. Luarannya tidak terlalu menarik. Kulitnya sawo matang, sedikit kurus, bentuk wajah agak tirus, tapi bersih dan agak bercahaya. Ada sedikit jenggot tumbuh di dagunya. Tinggi badannya lebih tinggi dibanding Rifan.
Pria si tukang senyum itu akhir-akhir ini telah menarik perhatianku. Bukan hanya karena setiap bertemu dia selalu tersenyum tapi karena sikapnya dewasa dan bertanggung jawab dalam setiap tugas yang diembannya. Meskipun kelihatannya dia biasa-biasa saja, tapi dia itu cerdas dan banyak tahu. Di kelas sering mendebat dosen. Dia juga sangat rajin. Jika tidak ada kegiatan atau pekerjaan dia selalu melakukan apa saja asalkan itu bermangfaat. Bermanfaat bagi semua orang tentunya. Disamping baik hati dia juga suka bercanda alias humoris. Padahal dia itu jarang ngomong. Tapi sekalinya ngomong bisa bikin ketawa semua orang. Kesannya selalu serius dan agak menyebalkan bagi orang serius sekalipun. Karena sebenarnya dia itu lucu. Tapi lucunya khas gaya dia seorang. Bagi yang kurang sesnsitif dan tidak suka candaan jangan mau deh banyak-banyak tanya sama dia. Pasti bakal kesal karena dapat jawaban tidak pasti, aneh tapi serius. Aku juga bingung.
“Pak, perlu bantuan?” Aku melihat sepertinya dia kesusahan mengambil lampu dari dalam tas kecilnya. Dia menunduk menatapku aneh sebentar. Kemudian dia tersenyum dan memberikan lampu bekas yang sudah padam kepadaku. Aku sedikit berjinjit untuk mengambilnya. Dia terlalu tinggi diatas tangga.
“Eh, Diya!” katanya setelah turun dari tangga. Masih aja tersenyum. Satu hal lagi, dia selalu menebar senyum kepada siapa saja yang ditemuinya. Jadi bukan kepadaku saja dia tersenyum terus seperti itu.
“Buat Diya aja, lumayan buat koleksi.” Dingin dan langsung pergi begitu saja saat aku hendak memberikan lampu bekas tadi kepadanya.
“Apaan? Tunggu, Pak!” aku jadi bingung dan kesal sama dia. Tapi dia berbalik dan tersenyum lagi. Pandangannya sekilas melirik tong sampah di depanku. Barang bekas dibuang saja. Buat apa jadi koleksi.
Aku dan dia tidak terlalu banyak berkomunikasi. Ketemu sih sering. Tapi paling saling sapa dan tanya hal yang penting saja. Kita lebih akrab di dumay alias dunia maya. Lewat chat di jejaring sosial aku mencoba mengenalnya lebih jauh. Kebanyakanya kita bercanda dan saling kirim emoticon, sticker atau foto-foto yang bisa bikin tertawa.
Untuk sementara aku bisa lupa dari Rifan. Aku ingin mencoba move on. Aku mengagumi pria dewasa yang satu ini tanpa aku sadari. Dan dari kekagumanku itu jadi ada sesuatu yang menggelitik dalam dadaku setiap bertemu dengannya. Hatiku juga selalu berdesir saat dia tersenyum kepadaku. Aku merasa menemukan bintang lagi yang bisa menghiasi langit hatiku yang sebelumnya gelap ditinggal Rifan. Malahan bintang ini tampak lebih terang.
Terlalu cepat mungkin untuk menyimpulkan cinta. Dan tergesa-gesa untuk memasukan bintang itu ke dalam hatiku. Tanpa aku terbang lebih tinggi untuk melihat sosok nyata bintang itu. Karena di kemudian hari aku harus terbangun dari mimpiku lagi. Bintang itu telah dicuri juga. Dan hatiku kembali gelap seperti awalnya. Pria dewasa itu ternyata sudah memiliki pujaan hati. Namun untungnya aku belum terlalu dalam terjerembab ke jurang pengagumanku padanya. Mungkin saja dia menyadari ada hati yang sedang mengincarnya. Dan sebelum memberikan harapan yang lebih lagi dia memutuskan harapan itu. Meski pada awalnya dia tampak tertarik padaku atau aku yang terlalu berlebihan. Karena sebelumnya hatinya telah memilih satu hati yang tidak bisa diraihnya. Tapi orang lain telah mencurinya terlebih dahulu sebelum dia bisa mengungkapkannya. Dan saat hati itu lepas bebas kembali dia memilih hati itu lagi.
Mungkin posisiku yang salah. Atau aku yang salah menempatkan diri. Inilah indahnya kehidupan. Inilah manisnya takdir. Mungkin inilah kilatan cahaya kehidupan yang kutemukan. Apapun yang dihadiahkan Tuhan kepada kita jika kita menyikapnya dengan baik pastilah baik. Karena tidak ada takdir yang buruk bagi orang-orang yang mau berpikir.
Seperti bintang aku menempatkan cinta dalam hidupku. Bercahaya menyinari hidupku yang gelap dan kelam.  Dan ada dua bintang secara bergantian memasuki langit hatiku. Namun kini keduanya telah dicuri. Dicuri oleh sahabat-sahabat terdekatku. Walau sebenarnya mereka tidak mencuri. Sebab aku tidak pernah memiliki keduanya. Namun alunan takdir membawaku ke dalam melodi kehidupan yang begitu indah ini. Pahit yang sebenarnya manis ini harus kukecap sebagai bentuk kesabaranku, ibadahku kepada-Nya. Aku hanya bisa diam ketika aku harus menyadari bahwa inilah takdir. Peristiwa ini sudah ketetapan-Nya. Tidak mungkin aku menggadaikan keimananku untuk hal-hal kecil ini.
Tapi bolehkah aku mengungangkapkan isi hati yang secara naluri aku adalah  manusia yang memiliki segudang rasa? Ingin kukabarkan pada alam yang paling pandai mengunci misteri. Meski hakikatnya kepada Sang Penguasa alam yang memiliki karunia yang tak terbilang. Bahwa aku mencintai tapi tidak pernah dicintai.#
By: imustbhappy*
Note : “everyone can find theirs’ star” ^_^

Coment please!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar