Jumat, 09 Mei 2014

Cerpen : Musim kemarau


Cinta di musim kemarau
Kemarau diawali dengan senyuman mentari yang bersinar hangat di pagi hari. Mengalun lembut kesejukan dan aroma tanah yang meliuk-liuk bersama hembusan angin dari arah timur negeri ini.  Meski pun bagi Bila kini tidak mempesona lagi. Karena  kemarau datang. Menyerap sari pati tanah dan urat kehidupan. Kemudian menyisakan sesak dalam dada. Akibat debu beterbangan. Setelah masa yang mengalun ke belakang. Mentari selalu membuat hatinya bahagia. Meski hanya sekedar mentari. Dia yakin bahwa mentari itu tersenyum untuk dirinya. Dan pagi selalu menjadi kesenangannya.
Tapi untuk hari ini Bila bahagia. Karena bulan yang sangat di tunggu-tunggu oleh seluruh umat islam akan segera tiba. Dia dan teman-teman seperjuangannya bersuka ria menyambut Ramadlan dengan mengunjungi sebuah tempat wisata alam. Kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah mereka yang berhias syara. Sebab mereka yakin akan janji Rasululloh: “Barang siapa yang bersuka cita dengan datangnya bulan Ramadlan, maka haram baginya neraka.”
Pantai pangandaran sangat mempesona. Laut biru terbentang luas seakan tak bertepi. Tanjung yang hijau menusuk samudera dengan gagah. Memperlihatkan kegagahannya di masa penjajahan jepang. Sebagai tempat menyimpan senjata dan mengawasi musuh. Bila berdecak kagum. Dan memuji nama Sang Pencipta. Tiba-tiba tapakurnya terpaksa berhenti karena sebuah suara yang memanggil namanya. Seseorang mendekati Bila dan berdiri tidak jauh darinya. Orang itu tersenyum. Tapi Bila mengabaikannya. Dia segera berlari ke bibir pantai. Bergabung dengan teman-temannya yang tengah bermain-main dengan ombak.
Semua orang berbahagia. Bersenang-senang menikmati kekuasaan Tuhan. Berenang  mengejar ombak. Dan membiarkan tubuh terseret ke pantai. Ada yang hanya bermain di bibir pantai. Sekedar membasahi kaki dan berlari-lari di kejar ombak. Bila melukiskan sebuah hati di atas pasir. Kemudian air laut mengikisnya. Sehingga gambar hati itu menghilang terhapus ombak. Seperti itulah cintanya kepada  Riza. Telah terhapus dari dalam hatinya.
Setelah puas bermain-main dan berenang. Bila memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian. Beserta kedua orang sahabatnya Muna dan Aziza, dia menuju wc umum khusus perempuan. Ketika menunggu kamar yang kosong. Dia memperhatikan seorang remaja perempuan bersama tiga anak laki-laki. Sepertinya mereka bersaudara. Dan anak perempuan itu paling besar. Karena tampak sibuk mengurus adik-adiknya yang ingin mengganti pakaian mereka dengan pakaian renang. Sampai pintu kamar mandi Bila masih memperhatikan anak itu. Malah dia tertegun melihat raut wajah anak itu yang kusut. Sehingga tampak tua sebelum waktunya. Lalu anak itu tersenyum kepadanya setelah pandangan mereka bertemu. Dan Bila membalasnya sebelum masuk kamar mandi.
#
“ Cha !!!”
Bila sedang sibuk memilih aksesoris buat kenang-kenangan. Dan dia mendengar suara yang memanggil nama kecilnya. Sebentar dia diam. Untuk meyakinkan dirinya. Tapi suara itu tiba-tiba menghilang. Mungkin dia terlalu geer. Bisa aja ada orang yang namanya sama. Bila tersenyum untuk dirinya sendiri.
Kemudian sebuah gantungan ponsel menarik perhatiannya. Gantungan bintang laut yang sudah dikeringkan itu adalah yang dari tadi dia cari-cari. Malah sejak dari rumah Bila bertekad harus mendapatkannya. Tapi, tiba-tiba seorang pria mendahuluinya. Bila kecewa. Sebab itu hanya satu-satunya di sana.
“Masih saja suka bintang”
Bila tersentak kaget. Suara yang sama kini berada tepat di sisinya. Dan gantungan bintang laut tadi kini ada di depan matanya.
“ Adib?!” seakan tak percaya Bila menengok ke sampingnya. Dan seorang pria tampan dan gagah kini tengah menatapnya. Pria itu tersenyum.
“Apa kabar, Salsabila?”
“Ba...ik” Bila masih belum bisa percaya. Mungkin hanya mimpi bisa bertemu dengan sahabat karib ketika SD yang telah lama menghilang itu.
“Aku nyata, cha...” Adib melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Bila.
Bila tiba-tiba tersenyum. Betapa bahagia hatinya bisa kembali bertemu dengan orang yang selama ini dicari-carinya. Ingin rasanya dia memeluk Adib. Tapi tidak mungkin. Kini Adib dan dirinya telah tumbuh dewasa. Pepatah-pepatah kyai yang dulu mereka pelajari di surau. Sudah dijadikan pengamalan untuk mengarungi kehidupan yang tidak lagi bisa tertawa lepas dan puas di saat bermain.
“Nih!” Adib memberikan gantungannya. “Kalu kamu mau, aku bisa carikan yang lebih banyak lagi.”
“Terima kasih. Aku sudah mendapatkanya.”
Diantara debur ombak samudera dan liukan angin laut, Bila dan Adib berbagi cerita. Menghepas semua kerinduan dan tanda tanya yang hampir delapan tahun ada di hati Bila.
“Kamu sekarang  sibuk apa, dib?”
“Alhamdulillah... aku sekarang sudah bekerja di sebuah surat kabar daerah. Kamu bisa lihat sendiri.” Adib mengambil kamera yang dari tadi tergantung di lehernya. Kemudian mengarahkannya pada Bila.
“Stop stop! Aku tidak mau dijadikan headline.” Bila menutupi wajahnya.
“Satu... aja, cha. Buat kenang-kenangan.”
“Enggak!” Bila berlari menghindari jepretan kamera. Dan Adib yang tidak mau menyerah terus mengejarnya. Sampai mereka terpaksa berhenti karena seorang anak kecil menubruk adib dari belakang.
“Kak Adib... ade pengen di poto.” Rengek anak itu. Ternyata bocah umur empat tahun itu adalah adik kandung Adib. Bila baru tahu kalo Adib datang ke Pangandaran bukan sedang bertugas. Tapi mengantar adik-adiknya liburan.
“Beginilah cha. Kesibukan aku sebenarnya adalah ngurus adik-adik.” Curhat Adib setelah keempat adiknya kembali bermain dengan air laut.
“Emang Paman dan Bibi gak ikut?”
Adib terdiam mendapati pertanyaan Bila. Deburan ombak menerpa hatinya. Bila menyesali ucapannya.
“Maaf, aku tak bermaksud...”
Namun Adib tidak mau larut lagi dalam kesedihan yang selama ini telah bersusah payah dia buang ke lautan. Dia kembali tersenyum.
“Ceritanya lebih panjang dari bulu mata kamu.” Adib balik menggoda.
“Jangan mulai deh!” Bila cemberut. Seakan-akan mengulang masa yang telah lampau.
Adib yang dulu adalah anak petani buruh di desanya kini tampak dewasa dan berwibawa. Tidak menyangka sahabat yang dulu dekil dan culun namun memiliki cita-cita yang tinggi kini berada di sampingnya dengan gagah sambil menyandang atribut kebesarannya.
#
.....
Untuk Salsabila ‘permataku’,
Aku sadar tak sepantasnya goresan hati ini aku kirimkan lagi kepadamu. Namun gelisah ini membuat mataku tidak terpejam. Sebab ketika malam, wajahmu senantiasa menghiasi langit-langit kamar. Aku tidak sabar menunggu sesuatu yang sangat penting dalam hidupku. Kamu lah yang terpenting itu.
Yang hatinya selalu gelisah
Riza F

Setelah selesai membaca, Bila langsung menyobek surat yang baru saja dia terima itu. Hatinya yang baru saja dipenuhi taman bunga karena mengingat liburan kemarin. Kini berganti dengan petir yang menyambar. Bagaimana tidak marah menghadapi orang yang memakan kembali ludahnya sendiri.
Riza adalah teman dekat Bila sejak SMP. SMA juga satu sekolahan. Dan kebersamaan mereka tidak disangka lanjut sampai di perguruan tinggi. Malahan mereka tinggal di pesantren yang sama. Sebelumnya Bila tidak pernah menyangka akan berjuang bersama Riza lagi. Riza anak yang baik. Pandai dan tampan. Dan kebersamaan yang lama itu telah menumbuhkan sebuah perasaan  istimewa di hati Bila. Namun hanya sekejap saja rasa itu ada. Karena sikap Riza yang acuh tak acuh dan terkesan mempermainkan dirinya. Membuat mawar merah yang baru kuncup di hati Bila layu sebelum waktunya. Riza blak-blakan menolak perasaan Bila. Ketika dia mencoba memancing perasaan Riza sebenarnya terhadap dirinya. Tapi kini saat hatinya telah kering dan tak mungkin tumbuh bunga yang baru untuk Riza. Keadaan jadi terbalik. Riza balik berusaha menanam mawar di hatinya.
Kedatangan surat Riza tidak menghentikan niat Bila untuk menghubungi teman yang dulu selalu memahami hatinya. Begitulah timbul harapan baru dalam jiwa Bila. Setelah sebelumnya terpuruk karena melihat bintang-bintang yang tidak mampu dia miliki bersinar terang di jiwa-jiwa lain. Kehidupan yang dihiasi persaihngan menjadikannya terasa lebih indah juga lebih pahit. Kemampuan manusia yang tidak semuanya berkadar sama. Melahirkan kedudukan yang berbeda. Padahal hakikat kedudukan terbaik di hadapan-Nya tidak selamanya sesuai dengan pemandangan dunia.
#
Langit pagi ini begitu cerah. Angin muson menyeret awan-awan hitam ke tempat jauh di arah Barat. Tinggal goresan-goresan awan putih menghiasi beberapa titik di atas langit. Seperti kapas yang di buang ke angkasa.
Sang mentari begitu hangat menyelimuti bumi yang menggigil di hempas angin. Yang membawa aroma-aroma salju dari daratan Australia. Namun sinar mentari tidak akan bisa mengalahkan sinar kebahagiaan yang terpancar dari wajah Bila. Muna dan Azizah melihatnya dengan penuh keanehan. Pagi ini Petugas Jaga mengantarkan surat Pemanggilan untuk Bila. Seseorang yang mengaku kakak nya menunggu di ruang Tamu Kantor Kepengurusan Santri. Bila sudah tahu yang datang itu adalah Adib. Sebab kemarin Adib bilang bahwa dia mempunyai jadwal berkunjung ke pesantren. Tugas dari atasanya untuk menggali informasi tentang kegiatan Ramadhan di Pesantren-pesantren.
Diantar oleh Muna, Bila segera menuju Kantor Kepengurusan santri yang terletak di bagian depan pesantren. Hati-hati Bila dan Muna melangkah. Keduanya sama-sama menjaga sikap sebagai muslimah agar tidak menimbulkan pitnah. Sebab di depan pesantren kebanyakan di penuhi oleh laki-laki.
Setibanya di kantor. Bila melihat Adib tengah berbincang-bincang dengan salah seorang staf pengurus. Ketika mata Adib menangkap sosok nya. Tangannya meminta Bila untuk menunggu sebentar. Bila hanya mengangguk lalu duduk di di kursi yang berjejer bersama Muna. Tidak begitu lama Adib sudah duduk di kursi dekat Bila bersama senyuman yang membuat hati Bila berbunga-bunga.
“Apa kabar Muna?” sapa Adib membuat Muna terpana kaget.
“Muna bukan?” Adib mengulang pertanyaannya
“Biasa aja , Mun.” Bila tersenyum dan menyenggol lengan Muna
“Alhamdulillah, kaget aja. Kok aku yang ditanya duluan.” Pipi Muna bersemu merah.
“Nih !!” Adib mengasongkan tas kertas kepada Bila. “Udara sekarang sangat dingin. Mudah-mudahan berguna di waktu ngaji.”
“Terimakasih.” Bila menerimanya. Dan mencoba bersikap biasa-biasa saja. Walau hatinya terpana. Tidak mengerti kenapa Adib memberinya hadiah.
“Dan ini makanan ringan buat cemilan waktu buka puasa bareng tema-teman se kamar.” Sebuah kantong plastik hitam besar disimpan di depan Bila.
“Terima kasih banyak deh. Tahu aja selera santri.”
“Jangan lupa. Aku tuh pernah jatuh cinta dan mengenal sedikit dunia pesantren. Cocok gak wartawan berjiwa santri?!”
Mereka pun larut dalam tawa-tawa kecil. Canda membuat mereka merasa lebih akrab. Dan setiap percakapan mengungkap kepribadian masing-masing. Yang akhirnya melahirkan tali persaudaraan.
“Kapan kamu pulang, cha?”
“Ya nanti pas libur di sini.”
“Emang libur nya kapan?”
“Tanggal 20 Ramadlan. Seperti biasa.”
“Mm...” Adib tampak memikirkan sesuatu.
“Syawal nanti bagaimana kalo kita ngadain reunian angakatan kita. Aku merindukan sahabat-sahabat kecil dulu.”
“Ide bagus. Boleh juga. Tapi kamu yang ngaturnya. Rasanya bakal sulit deh, ngumpulin mereka. Apalagi kita tidak tahu dimana mereka.”
“Itu sih gampang. Nanti di pikir lagi.”
Adib melirik jam di tangan nya. Tampaknya sudah sejam mereka bercakap-cakap. Tidak enak pada pengurus di sana. Lama-lama takut menjadi fitnah. Pikiran Bila pun sama. Mungkin perjumpaan harus ditunda dahulu. Jika di takdir kan mereka akan bertatap lagi di perjumpaan-perjumpaan selanjutnya. Di lain waktu. Di lain tempat. Begitulah harapan kembali hadir di hati Bila.
#
Assalaamu’alaikum. Wr. Wb.
Riz...
Sumur itu kini sudah tak lagi memiliki air. Musim kemarau yang panjang telah menyerap airnya hingga tak tersisa. Seandainya kamu coba untuk menuangkan air yang kamu ambil dari lautan. Permukaan tanahnya terlampau kering. Sia-sia. Kamu akan kelelahan. Masih banyak sumur-sumur yang masih memiliki air di jazirah lain.
Maaf. Mungkin kata ini yang bisa menjadi jawaban kegelisahan hatimu. Aku tak ingin membohongi dirimu. Aku serahkan kepada hatimu. Untuk menilai aku sombong atau apalah. Namun ribuan terima kasih ku haturkan. Untuk hati yang mau menyapa ku.
Riz...
Aku teringat pepatah yang mengatakan,”Cinta itu memberi dan melengkapi. Tidak selamanya harus memiliki.” Bagaimana pun, takdir itu sangat kuat. Kekuasaan Alloh meliputi segalanya. Andai aku bagian dari tulang rusuk mu. Kelak takdir akan mempertemukan kita. Dan hatiku akan dipenuhi air tanpa kau sirami.
Riza sahabatku,
Sekali lagi aku mohon maaf. Kamu akan selalu menjadi sahabatku yang terbaik.
Sahabatmu,
Salsabila Nazma

Bila membaca kembali surat balasan untuk Riza. Sebelum memasukan nya ke dalam amplop. Semoga saja persahabatan yang sudah lama terjalin tidak berubah karenanya. Semoga ketika bertemu dia tetap tersenyum seperti biasa.
Udara malam semakin dingin. Pertanda kemarau masih panjang. Teman-teman Bila semuanya sudah tertidur pulas. Dia memasukan suratnya ke dalam amplop. Lalu menyelipkannya pada buku diary. Rencananya besok akan dititipkan. Lalu dia mengambil sweater abu yang terlipat rapi dalam lemari. Ketika memakainya, dia teringat kepada Adib. Angannya melayang-layang. Menyelusuri kenangan-kenangan bersama Adib. Setelah merebahkan tubuh. Bila tersenyum. Teringat pada ibu nya yang tadi siang menelepon. Mengabarkan bahwa ada seorang wartawan nyasar melamar dirinya.#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar