Cinta di musim kemarau
Kemarau diawali dengan senyuman mentari yang bersinar hangat di
pagi hari. Mengalun lembut kesejukan dan aroma tanah yang meliuk-liuk bersama
hembusan angin dari arah timur negeri ini.
Meski pun bagi Bila kini tidak mempesona lagi. Karena kemarau datang. Menyerap sari pati tanah dan urat
kehidupan. Kemudian menyisakan sesak dalam dada. Akibat debu beterbangan. Setelah
masa yang mengalun ke belakang. Mentari selalu membuat hatinya bahagia. Meski
hanya sekedar mentari. Dia yakin bahwa mentari itu tersenyum untuk dirinya. Dan
pagi selalu menjadi kesenangannya.
Tapi untuk hari ini Bila bahagia. Karena bulan yang sangat di
tunggu-tunggu oleh seluruh umat islam akan segera tiba. Dia dan teman-teman
seperjuangannya bersuka ria menyambut Ramadlan dengan mengunjungi sebuah tempat
wisata alam. Kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah mereka yang berhias syara.
Sebab mereka yakin akan janji Rasululloh: “Barang siapa yang bersuka cita
dengan datangnya bulan Ramadlan, maka haram baginya neraka.”
Pantai pangandaran sangat mempesona. Laut biru terbentang luas
seakan tak bertepi. Tanjung yang hijau menusuk samudera dengan gagah.
Memperlihatkan kegagahannya di masa penjajahan jepang. Sebagai tempat menyimpan
senjata dan mengawasi musuh. Bila berdecak kagum. Dan memuji nama Sang Pencipta.
Tiba-tiba tapakurnya terpaksa berhenti karena sebuah suara yang memanggil
namanya. Seseorang mendekati Bila dan berdiri tidak jauh darinya. Orang itu
tersenyum. Tapi Bila mengabaikannya. Dia segera berlari ke bibir pantai.
Bergabung dengan teman-temannya yang tengah bermain-main dengan ombak.
Semua orang berbahagia. Bersenang-senang menikmati kekuasaan Tuhan. Berenang
mengejar ombak. Dan membiarkan tubuh
terseret ke pantai. Ada yang hanya bermain di bibir pantai. Sekedar membasahi
kaki dan berlari-lari di kejar ombak. Bila melukiskan sebuah hati di atas
pasir. Kemudian air laut mengikisnya. Sehingga gambar hati itu menghilang
terhapus ombak. Seperti itulah cintanya kepada Riza. Telah terhapus dari dalam hatinya.
Setelah puas bermain-main dan berenang. Bila memutuskan untuk mandi
dan berganti pakaian. Beserta kedua orang sahabatnya Muna dan Aziza, dia menuju
wc umum khusus perempuan. Ketika menunggu kamar yang kosong. Dia memperhatikan
seorang remaja perempuan bersama tiga anak laki-laki. Sepertinya mereka
bersaudara. Dan anak perempuan itu paling besar. Karena tampak sibuk mengurus
adik-adiknya yang ingin mengganti pakaian mereka dengan pakaian renang. Sampai
pintu kamar mandi Bila masih memperhatikan anak itu. Malah dia tertegun melihat
raut wajah anak itu yang kusut. Sehingga tampak tua sebelum waktunya. Lalu anak
itu tersenyum kepadanya setelah pandangan mereka bertemu. Dan Bila membalasnya
sebelum masuk kamar mandi.
#
“ Cha !!!”
Bila sedang sibuk memilih aksesoris buat kenang-kenangan. Dan
dia mendengar suara yang memanggil nama kecilnya. Sebentar dia diam. Untuk
meyakinkan dirinya. Tapi suara itu tiba-tiba menghilang. Mungkin dia terlalu
geer. Bisa aja ada orang yang namanya sama. Bila tersenyum untuk dirinya
sendiri.
Kemudian sebuah gantungan ponsel menarik perhatiannya. Gantungan
bintang laut yang sudah dikeringkan itu adalah yang dari tadi dia cari-cari.
Malah sejak dari rumah Bila bertekad harus mendapatkannya. Tapi, tiba-tiba
seorang pria mendahuluinya. Bila kecewa. Sebab itu hanya satu-satunya di sana.
“Masih saja suka bintang”
Bila tersentak kaget. Suara yang sama kini berada tepat di sisinya.
Dan gantungan bintang laut tadi kini ada di depan matanya.
“ Adib?!” seakan tak percaya Bila menengok ke sampingnya. Dan
seorang pria tampan dan gagah kini tengah menatapnya. Pria itu tersenyum.
“Apa kabar, Salsabila?”
“Ba...ik” Bila masih belum bisa percaya. Mungkin hanya mimpi bisa
bertemu dengan sahabat karib ketika SD yang telah lama menghilang itu.
“Aku nyata, cha...” Adib melambai-lambaikan tangannya di depan
wajah Bila.
Bila tiba-tiba tersenyum. Betapa bahagia hatinya bisa kembali
bertemu dengan orang yang selama ini dicari-carinya. Ingin rasanya dia memeluk
Adib. Tapi tidak mungkin. Kini Adib dan dirinya telah tumbuh dewasa.
Pepatah-pepatah kyai yang dulu mereka pelajari di surau. Sudah dijadikan
pengamalan untuk mengarungi kehidupan yang tidak lagi bisa tertawa lepas dan
puas di saat bermain.
“Nih!” Adib memberikan gantungannya. “Kalu kamu mau, aku bisa
carikan yang lebih banyak lagi.”
“Terima kasih. Aku sudah mendapatkanya.”
Diantara debur ombak samudera dan liukan angin laut, Bila dan Adib
berbagi cerita. Menghepas semua kerinduan dan tanda tanya yang hampir delapan
tahun ada di hati Bila.
“Kamu sekarang sibuk apa,
dib?”
“Alhamdulillah... aku sekarang sudah bekerja di sebuah surat kabar
daerah. Kamu bisa lihat sendiri.” Adib mengambil kamera yang dari tadi
tergantung di lehernya. Kemudian mengarahkannya pada Bila.
“Stop stop! Aku tidak mau dijadikan headline.” Bila menutupi
wajahnya.
“Satu... aja, cha. Buat kenang-kenangan.”
“Enggak!” Bila berlari menghindari jepretan kamera. Dan Adib yang
tidak mau menyerah terus mengejarnya. Sampai mereka terpaksa berhenti karena
seorang anak kecil menubruk adib dari belakang.
“Kak Adib... ade pengen di poto.” Rengek anak itu. Ternyata bocah
umur empat tahun itu adalah adik kandung Adib. Bila baru tahu kalo Adib datang
ke Pangandaran bukan sedang bertugas. Tapi mengantar adik-adiknya liburan.
“Beginilah cha. Kesibukan aku sebenarnya adalah ngurus adik-adik.”
Curhat Adib setelah keempat adiknya kembali bermain dengan air laut.
“Emang Paman dan Bibi gak ikut?”
Adib terdiam mendapati pertanyaan Bila. Deburan ombak menerpa
hatinya. Bila menyesali ucapannya.
“Maaf, aku tak bermaksud...”
Namun Adib tidak mau larut lagi dalam kesedihan yang selama ini
telah bersusah payah dia buang ke lautan. Dia kembali tersenyum.
“Ceritanya lebih panjang dari bulu mata kamu.” Adib balik menggoda.
“Jangan mulai deh!” Bila cemberut. Seakan-akan mengulang masa yang
telah lampau.
Adib yang dulu adalah anak petani buruh di desanya kini tampak dewasa
dan berwibawa. Tidak menyangka sahabat yang dulu dekil dan culun namun memiliki
cita-cita yang tinggi kini berada di sampingnya dengan gagah sambil menyandang
atribut kebesarannya.
#
.....
Untuk Salsabila ‘permataku’,
Aku sadar tak sepantasnya goresan hati ini aku kirimkan lagi
kepadamu. Namun gelisah ini membuat mataku tidak terpejam. Sebab ketika malam,
wajahmu senantiasa menghiasi langit-langit kamar. Aku tidak sabar menunggu
sesuatu yang sangat penting dalam hidupku. Kamu lah yang terpenting itu.
Yang hatinya selalu gelisah
Riza F
Setelah selesai membaca, Bila langsung menyobek surat yang baru saja
dia terima itu. Hatinya yang baru saja dipenuhi taman bunga karena mengingat
liburan kemarin. Kini berganti dengan petir yang menyambar. Bagaimana tidak
marah menghadapi orang yang memakan kembali ludahnya sendiri.
Riza adalah teman dekat Bila sejak SMP. SMA juga satu sekolahan.
Dan kebersamaan mereka tidak disangka lanjut sampai di perguruan tinggi.
Malahan mereka tinggal di pesantren yang sama. Sebelumnya Bila tidak pernah
menyangka akan berjuang bersama Riza lagi. Riza anak yang baik. Pandai dan
tampan. Dan kebersamaan yang lama itu telah menumbuhkan sebuah perasaan istimewa di hati Bila. Namun hanya sekejap
saja rasa itu ada. Karena sikap Riza yang acuh tak acuh dan terkesan
mempermainkan dirinya. Membuat mawar merah yang baru kuncup di hati Bila layu
sebelum waktunya. Riza blak-blakan menolak perasaan Bila. Ketika dia mencoba
memancing perasaan Riza sebenarnya terhadap dirinya. Tapi kini saat hatinya
telah kering dan tak mungkin tumbuh bunga yang baru untuk Riza. Keadaan jadi terbalik.
Riza balik berusaha menanam mawar di hatinya.
Kedatangan surat Riza tidak menghentikan niat Bila untuk
menghubungi teman yang dulu selalu memahami hatinya. Begitulah timbul harapan
baru dalam jiwa Bila. Setelah sebelumnya terpuruk karena melihat bintang-bintang
yang tidak mampu dia miliki bersinar terang di jiwa-jiwa lain. Kehidupan yang
dihiasi persaihngan menjadikannya terasa lebih indah juga lebih pahit. Kemampuan
manusia yang tidak semuanya berkadar sama. Melahirkan kedudukan yang berbeda.
Padahal hakikat kedudukan terbaik di hadapan-Nya tidak selamanya sesuai dengan
pemandangan dunia.
#
Langit pagi ini begitu cerah. Angin muson menyeret awan-awan hitam
ke tempat jauh di arah Barat. Tinggal goresan-goresan awan putih menghiasi
beberapa titik di atas langit. Seperti kapas yang di buang ke angkasa.
Sang mentari begitu hangat menyelimuti bumi yang menggigil di
hempas angin. Yang membawa aroma-aroma salju dari daratan Australia. Namun
sinar mentari tidak akan bisa mengalahkan sinar kebahagiaan yang terpancar dari
wajah Bila. Muna dan Azizah melihatnya dengan penuh keanehan. Pagi ini Petugas
Jaga mengantarkan surat Pemanggilan untuk Bila. Seseorang yang mengaku kakak
nya menunggu di ruang Tamu Kantor Kepengurusan Santri. Bila sudah tahu yang
datang itu adalah Adib. Sebab kemarin Adib bilang bahwa dia mempunyai jadwal
berkunjung ke pesantren. Tugas dari atasanya untuk menggali informasi tentang
kegiatan Ramadhan di Pesantren-pesantren.
Diantar oleh Muna, Bila segera menuju Kantor Kepengurusan santri
yang terletak di bagian depan pesantren. Hati-hati Bila dan Muna melangkah.
Keduanya sama-sama menjaga sikap sebagai muslimah agar tidak menimbulkan
pitnah. Sebab di depan pesantren kebanyakan di penuhi oleh laki-laki.
Setibanya di kantor. Bila melihat Adib tengah berbincang-bincang
dengan salah seorang staf pengurus. Ketika mata Adib menangkap sosok nya.
Tangannya meminta Bila untuk menunggu sebentar. Bila hanya mengangguk lalu
duduk di di kursi yang berjejer bersama Muna. Tidak begitu lama Adib sudah
duduk di kursi dekat Bila bersama senyuman yang membuat hati Bila
berbunga-bunga.
“Apa kabar Muna?” sapa Adib membuat Muna terpana kaget.
“Muna bukan?” Adib mengulang pertanyaannya
“Biasa aja , Mun.” Bila tersenyum dan menyenggol lengan Muna
“Alhamdulillah, kaget aja. Kok aku yang ditanya duluan.” Pipi Muna
bersemu merah.
“Nih !!” Adib mengasongkan tas kertas kepada Bila. “Udara sekarang
sangat dingin. Mudah-mudahan berguna di waktu ngaji.”
“Terimakasih.” Bila menerimanya. Dan mencoba bersikap biasa-biasa
saja. Walau hatinya terpana. Tidak mengerti kenapa Adib memberinya hadiah.
“Dan ini makanan ringan buat cemilan waktu buka puasa bareng
tema-teman se kamar.” Sebuah kantong plastik hitam besar disimpan di depan
Bila.
“Terima kasih banyak deh. Tahu aja selera santri.”
“Jangan lupa. Aku tuh pernah jatuh cinta dan mengenal sedikit dunia
pesantren. Cocok gak wartawan berjiwa santri?!”
Mereka pun larut dalam tawa-tawa kecil. Canda membuat mereka merasa
lebih akrab. Dan setiap percakapan mengungkap kepribadian masing-masing. Yang
akhirnya melahirkan tali persaudaraan.
“Kapan kamu pulang, cha?”
“Ya nanti pas libur di sini.”
“Emang libur nya kapan?”
“Tanggal 20 Ramadlan. Seperti biasa.”
“Mm...” Adib tampak memikirkan sesuatu.
“Syawal nanti bagaimana kalo kita ngadain reunian angakatan kita.
Aku merindukan sahabat-sahabat kecil dulu.”
“Ide bagus. Boleh juga. Tapi kamu yang ngaturnya. Rasanya bakal
sulit deh, ngumpulin mereka. Apalagi kita tidak tahu dimana mereka.”
“Itu sih gampang. Nanti di pikir lagi.”
Adib melirik jam di tangan nya. Tampaknya sudah sejam mereka
bercakap-cakap. Tidak enak pada pengurus di sana. Lama-lama takut menjadi fitnah. Pikiran Bila pun sama. Mungkin perjumpaan harus ditunda dahulu. Jika di
takdir kan mereka akan bertatap lagi di perjumpaan-perjumpaan selanjutnya. Di
lain waktu. Di lain tempat. Begitulah harapan kembali hadir di hati Bila.
#
Assalaamu’alaikum. Wr. Wb.
Riz...
Sumur itu kini sudah tak lagi memiliki air. Musim kemarau yang
panjang telah menyerap airnya hingga tak tersisa. Seandainya kamu coba untuk
menuangkan air yang kamu ambil dari lautan. Permukaan tanahnya terlampau
kering. Sia-sia. Kamu akan kelelahan. Masih banyak sumur-sumur yang masih
memiliki air di jazirah lain.
Maaf. Mungkin kata ini yang bisa menjadi jawaban kegelisahan
hatimu. Aku tak ingin membohongi dirimu. Aku serahkan kepada hatimu. Untuk
menilai aku sombong atau apalah. Namun ribuan terima kasih ku haturkan. Untuk
hati yang mau menyapa ku.
Riz...
Aku teringat pepatah yang mengatakan,”Cinta itu memberi dan
melengkapi. Tidak selamanya harus memiliki.” Bagaimana pun, takdir itu sangat
kuat. Kekuasaan Alloh meliputi segalanya. Andai aku bagian dari tulang rusuk mu.
Kelak takdir akan mempertemukan kita. Dan hatiku akan dipenuhi air tanpa kau
sirami.
Riza sahabatku,
Sekali lagi aku mohon maaf. Kamu akan selalu menjadi sahabatku yang
terbaik.
Sahabatmu,
Salsabila Nazma
Bila membaca kembali surat balasan untuk Riza. Sebelum memasukan nya
ke dalam amplop. Semoga saja persahabatan yang sudah lama terjalin tidak
berubah karenanya. Semoga ketika bertemu dia tetap tersenyum seperti biasa.
Udara malam semakin dingin. Pertanda kemarau masih panjang.
Teman-teman Bila semuanya sudah tertidur pulas. Dia memasukan suratnya ke dalam
amplop. Lalu menyelipkannya pada buku diary. Rencananya besok akan dititipkan.
Lalu dia mengambil sweater abu yang terlipat rapi dalam lemari. Ketika
memakainya, dia teringat kepada Adib. Angannya melayang-layang. Menyelusuri
kenangan-kenangan bersama Adib. Setelah merebahkan tubuh. Bila tersenyum.
Teringat pada ibu nya yang tadi siang menelepon. Mengabarkan bahwa ada seorang
wartawan nyasar melamar dirinya.#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar