Senin, 19 Mei 2014

Cerpen



Cinta itu Normal
(Sebuah Cerpen)

“Nis!!”
Sebuah sapaan menghentikan langkah kakiku memasuki kelas. Kepalaku pun berputar sembilan puluh derajat ke arah kanan, arah sumber sapaan itu. Aku kenal betul suara lembut yang memanggil namaku itu. Padahal dulu suara itu sangat asing sekali.
“Ya, ada apa?” tanyaku, untuk memastikan apa dia hanya menyapa bukan memanggil. Jujur, sebenarnya aku belum bisa membedakan antara sapaan atau panggilan darinya.

Jumat, 09 Mei 2014

Cerpen : Musim kemarau


Cinta di musim kemarau
Kemarau diawali dengan senyuman mentari yang bersinar hangat di pagi hari. Mengalun lembut kesejukan dan aroma tanah yang meliuk-liuk bersama hembusan angin dari arah timur negeri ini.  Meski pun bagi Bila kini tidak mempesona lagi. Karena  kemarau datang. Menyerap sari pati tanah dan urat kehidupan. Kemudian menyisakan sesak dalam dada. Akibat debu beterbangan. Setelah masa yang mengalun ke belakang. Mentari selalu membuat hatinya bahagia. Meski hanya sekedar mentari. Dia yakin bahwa mentari itu tersenyum untuk dirinya. Dan pagi selalu menjadi kesenangannya.

Cerpen : Bintang Hatiku



Bintang Hatiku
(Sebuah Cerpen)

Dahulu aku pernah mencintai seorang sahabat. Dan sampai kini cinta itu masih saja melekat. Karena dia adalah bintang yang pertama masuk ke dalam langit hatiku. Dia adalah cinta pertamaku. Namun sampai detik inipun dia masih belum tahu. Sehingga tiba saatnya dia dicuri oleh orang lain yang juga masih teman dekatku. Tapi dengan kebisuanku, aku masih bisa dekat dengannya. Bertahun-tahun menjadi teman curhatnya. Walau terasa menyakitkan.